Dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim AS bertanya kepada Allah SWT, "Wahai Tuhanku dari siapakah datangnya penyakit?", Allah menjawab, "Dariku", Kemudian Beliau bertanya kembali, "Lalu, dari manakah datangnya obat?". "Dariku", jawab Allah. "Lantas,apa peranan dokter?", tanyanya. "( dokter adalah ) Seseorang yang telah dikirimkan obat kepadanya?" jelas Tuhannya.
Berangkat dari kisah tersebut, para ulama berpendapat, "Dari cerita tersebut bisa dipahami bahwa sejatinya Allah SWT. Dialah yang menurunkan penyakit sekaligus obat dengan perantara para malaikat yang dipasrahi urusan dunia. Maksudnya, tiap-tiap diri kita memiliki 'Malaikat Penjaga' yang diamanati diri kita sekaligus segala hal dan kemampuan yang berkaitan langsung denganya, diantaranyadalam hal penyakit dan obat, sejak awal mula tubuh keluar dari rahim sang ibu hingga tubuh tersebut menemui ajalnya.
Riwayat serupa dikisahkan, bahwa Nabi Musa AS ketika berada di gurun Sinai, perutnya terasa sangat mual. Nabi Musa mengeluh kepada Allah SWT sambil merendah diri, ia meminta obat kepada-Nya. Kemudian Allah meunjukan kepadanya rerumputan yang ada disuatu tempat di gurun itu. Musa lantas pergi ke tempat itu, kemudian ia memakan rumput tersebut dan sembuhlah dia. Nabi Musa pun langsung memuji Allah kemudian pergi. Tak lama kemudian, sakitnya kambuh lagi. Musa dengan sendirinya menuju ke rerumputan tadi lalu memakanya. Namun, sakitnya tambah parah. Lalu dia mengeluh kepada Allah. " Wahai Tuhanku, alangkah dahsyatnya keagungan-Mu dulu, pertama kali kumakan rerumputan itu au langsung sembuh. Namun aku makan kedua kalinyaternyata sakitku bertambah parah. Lantas, di manakah hikmah-Mu ( hukum alam-Mu : penerjemah ) dalam hal ini, Wahai Tuhanku?", tanya Musa. "Wahai Musa,dulu pertama kali kau datangi rerumputan ini atas kehendak-Ku sehingga kamu pun sembuh. Akan tetapi, kali kedua kamu mendatanginya atas kehendakmu sendiri, dan tidak mohon kepada-Ku, sehingga sakitmu pun semakin parah. Tidak kah kau ketahui,wahai Musa, bahwa segala sesuatu di dunia adalah racun yang mematikan, sementara penangkalnya adalah asma-Ku."
Demikian pula kisah tentang Nabi Isa AS "Iman kalian telah menyembuhkan kalian", nasehat Nabi Isa menanggapi beberapa orang sakit yang saat itu bertanya kepadanya, "Kami telah memercayai takdir baik dan buruknya, serta manis dan pahitnya".
"Sesungguhnya Allah telah obat bagi tiap-tiap penyakit. Allah telah mengajarkannya kepada orang yang mengetahuinya, dan Dia menyembunyikanya dari orang yang tidak mengetahuinya." ( HR. Ibnu Majah ).
"Sesungguhnya Allah tidaklah menimpakan suatu penyakit melainkan bersama nya Dia telah menurunkan penawarnya. Allah telah mengajarkanya kepada orang yang mengetahiunya, dan Dia menyemunyikannya terhadap orang yang tidak mengetahiunya." ( HR. Nasa'i, dari Ibnu Mas'ud ).
"Setiap penyakit ada obatnya. Apabila si sakit telah ditemukan obat penyaktnya maka sembuhlah ia atas kehendak Allah 'Azza wa Jalla." ( HR. Ahmad ).
Dikisahkan, Usamah bin Syuraik menceritakan :
Suatu kali aku pernah bersama Nabi Muhammad SAW, lalu datanglah beberapa orang badui. "Wahai Rasulullah, bisakah kami mengobati diri kami sendiri?" tanya mereka. "Ya, bisa....wahai hamba Allah, lakukanlah tetapi karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak menurunkan penyakit kecualitelah menurunkan penawarnya, kecuali satu penyakit". tegas Nabi. "Apakah itu?" tanya mereka. "Kepikunan". jawab Nabi. ( HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa'i,dan Tirmidzi ).
Sementara itu, Abu Khuzamah menuturkan : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah, "Bagaimana menurut Engaku tentang suwuk ( ruqyah ) yang kami gunakan untuk menyuwuk, obat yang kami gunakan mengobati, dan ketaqwaan yang kami tekuni bisakah sedikit menolak takdir Allah?", Beliau menjawab, "Itu bagian dari takdir Allah". ( HR.Tirmidzi , bab Takdir ).
Sesungguhnya Al Qur'anul Karim memang benar-benar obat yang terbaik. Di dalamnya terdapat penembuh bagi manusia, Al Qur'an adalah penyembuh bagi penyakit-penyakit hati, yang mampu menyembuhkan setiap orang yang meyakininya, mengandalkannya dan berkeyakinan bahwa semua itu berasal dari sisi Allah. sementara cara pengobatan ala Nabi tidak akan memiliki daya guna kecuali bagi orang yang sepenuh hati mengucapkan, "Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, Al Qur'an sebagai petunjukku, dan junjungan kami Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul".
Terapi dengan Al Qur'an dan Sunnah merupakan pengobata yang diyakini secara pasti bersifat Ilahi, yang bersumber dari wahyu dan pelita kenabian. Ini tidaklah sama dengan pengobatan ilmiah para dokter, yang masih mengandung unsur posibilitas, yang didasarkan atas dugaan, intuisi dan eksprimen. Dan orang-orang yang tidak meyakini Al Qur'an dan Sunnah Nabi yang sakral, padahal terapi keduanya sangatlah tepat, maka sejatinya mereka dimata kami tidaklah melakukan pengobatan yang hakiki dan tidak memiliki kemampuan apa-apa secara klinis.







0 komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bahasa yang baik, sopan dan benar. Insya Allah kami akan menghargai komentar anda.