Kisah Nabi Uzair Tertidur 100 Tahun
Pada suatu hari ketika 'Uzair memasuki kebunnya
yang subur dengan pepohonan yang hijau daunnya dan lebat buahnya.
Hatinya terpesona dengan keindahan pemandangan kebunnya. Ia pun memetik
beberapa buah-buahan untuk dibawa pulang. Setelah itu ia pulang
dengan keledainya sambil menikmati keindahan alam sekitarnya. Ia tidak
sadar bahwa keledai yang ditungganginya telah tersesat jalan. Setelah
sekian lama barulah ia sadar bahwa ia telah berada di suatu daerah yang
tidak dikenali serta sudah jauh dari desa tempat tinggalnya.
‘Uzair memperhatikan sekeliling daerah yang asing itu.
“Hmm.. Tempat ini seperti bekas sebuah kampung yang binasa akibat peperangan dahsyat…” pikirnya.
“Hmm.. Tempat ini seperti bekas sebuah kampung yang binasa akibat peperangan dahsyat…” pikirnya.
Di beberapa sudut kampung itu tampak bekas-bekas reruntuhan dengan mayat-mayat manusia yang bergelimpangan dimana-mana. Ia pun turun dari keledainya dengan membawa dua keranjang buah-buahan. Keledainya ia ditambatkan pada sebatang pohon, lalu ia duduk bersandar pada dinding sebuah rumah yang sudah runtuh. Ia pandangi mayat-mayat manusia yang sudah mulai membusuk itu. Pikirannya mulai berkecamuk,
"Hmm.. Bagaimana orang-orang yang sudah mati dan hancur itu pada hari kiamat dihidupkan lagi oleh Allah?"
Ia terus memikirkan itu hingga tertidur karena kelelahan.
‘Uzair
terus tertidur hingga hari berganti hari, bulan berganti bulan dan
tahun pun berganti tahun tanpa terbangun sedetik pun. Seratus tahun
berlalu sudah, sementara ‘Uzair tetap tertidur dengan jasad yang sudah
hancur menyatu dengan tanah.
Kemudian Allah menyusun kembali daging dan tulang
belulang ‘Uzair yang sudah hancur itu lalu ditiupkan ruhnya. Seketika
itu juga 'Uzair terbangun dan berdiri mencari keledai dan
buah-buahannya di dalam keranjang.
Tidak berapa lama kemudian, turunlah beberapa malaikat seraya bertanya, "Tahukah engkau wahai 'Uzair berapa lama engkau tidur?”
Tanpa berpikir panjang 'Uzair menjawab, "Aku tertidur seharian atau mungkin setengah hari."
Lalu malaikat pun berkata kepadanya, "Wahai ‘Uzair, engkau telah tertidur selama seratus tahun. Disinilah engkau berbaring, ditimpa hujan dan panas matahari, bahkan kadang ditiup badai. Dalam masa yang begitu panjang itu, buah-buahanmu tetap baik keadaannya. Tetapi coba lihat keledaimu, dia sudah hancur dimakan bumi”.
Dengan penuh keheranan, bergantian ia pandangi buah-buahan yang masih segar dan keledainya sudah hancur tidak berbentuk.
Malaikat pun melanjutkan perkatannya, "Lihat
dan perhatikanlah sungguh-sungguh. Demikianlah kekuasaan Allah. Allah
dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan mengembalikan
jasad-jasad yang sudah hancur lebur. Dengan semudah itu pula Allah
akan membangkitkan semua manusia yang sudah mati untuk diperiksa dan
diadili segala perbuatannya kelak di akhirat. Hal ini diperlihatkan
oleh Allah kepadamu agar engkau dan manusia-manusia lain tidak
ragu-ragu lagi tentang apa yang diterangkan oleh Allah tentang
kehidupan di akhirat".
Tiba-tiba keledai yang sudah hancur berderai
itu dilihatnya mulai dikumpulkan daging dan tulangnya dan akhirnya
menjadi seperti sediakala, hidup sebagaimana sebelum mati. Maka 'Uzair
pun berkata, "Sekarang aku semakin yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu”.
Lalu ‘Uzair menghampiri keledainya dan menungganginya pulang ke rumahnya dahulu. Namun ia kesulitan mencari jalan pulang. Jalan yang dulu pernah ia lalui sudah banyak berubah. Ia mencoba mengingat-ingat apa yang pernah dilihatnya seratus tahun lalu. Setelah menempuh berbagai kesulitan, akhirnya ia pun sampai di rumahnya. Ia mendapati rumahnya sudah porak poranda, sebagian besar dinding-dinding rumahnya telah runtuh. Ia pun mulai ragu, “Apa benar ini rumahku dulu..” Tiba-tiba ‘Uzair melihat ada seorang perempuan tua berjalan tertatih-tatih. Kedua matanya telah buta, hingga ia harus berjalan meraba-raba menggunakan tongkatnya. Lantas ‘Uzair pun bertanya, "Maaf bu.. Rumah siapakah ini?”
Perempuan tua itu
menjawab. "Ini adalah rumah 'Uzair, tetapi ia telah lama pergi dan
tidak lagi didengar kabar beritanya. Lagi pula semua orang sudah
melupakannya”.
“Ibu.. akulah 'Uzair," jelas 'Uzair. "Aku telah dimatikan oleh Allah seratus tahun yang lalu. Sekarang aku sudah dihidupkan kembali oleh Allah”.
“Ibu.. akulah 'Uzair," jelas 'Uzair. "Aku telah dimatikan oleh Allah seratus tahun yang lalu. Sekarang aku sudah dihidupkan kembali oleh Allah”.
Perempuan tua itu terkejut seakan-akan tidak percaya, lalu dia pun berkata, "'Uzair itu adalah seorang yang paling sholeh, doanya selalu dikabulkan oleh Allah dan telah banyak jasanya dalam mengobati orang-orang yang sakit" sambungya lagi, "Aku ini pelayan ‘Uzair, badanku telah tua dan lemah, mataku pun telah buta karena selalu menangis terkenangkan 'Uzair. Kalaulah tuan ini 'Uzair maka cobalah tuan doakan kepada Allah supaya mataku terang kembali dan dapat melihat tuan."
Uzair pun menengadahkan kedua tangannya ke
langit lalu berdoa kepada Allah. Tiba-tiba kedua mata peempuan tua itu
pun terbuka dan dapat melihat dengan lebih terang lagi. Tubuhnya yang
tua dan lemah itu kembali kuat seakan-akan kembali muda. Setelah
menatap wajah 'Uzair dia pun berkata, "Benar, tuanlah 'Uzair. Aku masih
ingat".
Berita tentang kembalinya ‘Uzair
setelah seratus tahun menghilang itu bukan saja mengejutkan orang-orang
Bani Israil, tetapi ada juga yang meragukan dan tidak percaya
kepadanya. Walau bagaimanapun berita itu menarik perhatian semua orang
yang hidup ketika itu. Kerana itu mereka ingin menguji kebenaran
'Uzair. Kemudian datanglah anak kandungnya sendiri seraya bertanya,
"Aku masih ingat bahwa bapakku mempunyai tanda di punggungnya. Cobalah
periksa tanda itu. Kalau ada, benarlah dia 'Uzair."
Tanda itu memang ada pada 'Uzair, lalu
percayalah sebagian dari mereka. Akan tetapi sebagian lagi masih ingin
bukti yang lebih nyata, maka mereka berkata kepada 'Uzair, "Bahwa sejak
penyerbuan Nebukadnezar pada bangsa Bani Israil dan setelah tentara
tersebut membakar kitab suci Taurat, maka tidak ada seorang Bani Israil
pun yang hafal isi Taurat kecuali 'Uzair saja. Kalau memang benar tuan
adalah ‘Uzair, coba tuan sebutkan isi Taurat yang benar."







0 komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bahasa yang baik, sopan dan benar. Insya Allah kami akan menghargai komentar anda.