Silahkan diBaca semoga bermanfaat
Bismillahirohmanirohim
assalamu'alaikum wr wb
SWT menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan Langit dan Bumi. Disetiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.
Ibn Mubarok mengatakan bahwa Khalid bin Ma'dan berkata
kepada sahabat Mu'adz bin Jabal r.a. "Ceritakanlah satu hadits yang
kau dengar dari Rosululloh saw, yang kau menghafalnya dan setiap hari kau
mengingatnya lantaran saking keras, halus, dan dalamnya makna hadits tersebut.
Hadits manakah yang menurut pendapatmu paling penting?"
Mu'adz menjawab, "Baiklah, akan
kuceritakan."
Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur, "hmm, sungguh rindunya hati ini kepada Rosululloh saw, ingin rasanya segera bersua dengan beliau."
Sesaat kemudian, ia pun menangis hingga lama sekali, lalu ia bertutur, "hmm, sungguh rindunya hati ini kepada Rosululloh saw, ingin rasanya segera bersua dengan beliau."
Ia melanjutkan, "Suatu saat aku menghadap
Rosululloh saw, Beliau menunggangi seekor unta dan menyuruhku naik
dibelakangnya dengan unta tersebut. Kemudian beliau menengadahkan wajahnya ke
langit, dan berkata,
"Puji syukur kehadirat آلله, Yang Maha Berkehendak kepada makhluk-Nya menurut kehendak-Nya."
"Puji syukur kehadirat آلله, Yang Maha Berkehendak kepada makhluk-Nya menurut kehendak-Nya."
Kemudian Rosululloh saw berkata,
"Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang apabila engkau hafalkan (perhatikan), akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak dihadapan آلله."
"Sekarang aku akan mengisahkan satu cerita kepadamu yang apabila engkau hafalkan (perhatikan), akan berguna bagimu, tapi kalau engkau sepelekan, engkau tidak akan mempunyai hujjah kelak dihadapan آلله."
----------**********AMAL YANG
TERTOLAK**********----------
Kisah Malaikat Penjaga Tujuh Pintu Langit
"Hai Mu'adz! آلله menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan langit dan
bumi. Pada setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu, dan tiap-tiap pintu langit itu
dijaga olehmalaikat penjaga pintu sesuai kadar pintu dan keagungannya."
"Maka, Malaikat hafazhoh (malaikat yang memelihara dan
mencatat amal seseorang) naik ke langit dengan membawa amal seseorang yang
cahayanya bersinar-sinar bagaikan cahaya matahari. Ia, yang menganggap amal
orang tersebut banyak, memuji amal-amal orang itu."
"Tapi, sampai di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepadamalaikat hafazhoh, 'Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga tukang pengumpat, aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya'."
"Tapi, sampai di pintu langit pertama, berkata malaikat penjaga pintu langit itu kepadamalaikat hafazhoh, 'Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga tukang pengumpat, aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk tukang mengumpat orang lain. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit berikutnya'."
"Keesokan harinya ada lagi malaikat
hafazhoh yang naik ke langit dengan membawa amal shalih seorang lainnya yang
cahayanya berkilauan. Ia juga memujinya lantaran begitu banyaknya amal
tersebut. Namun malaikat di langit kedua mengatakan, 'berhentilah, dan tamparkanlah amal ini ke
wajah pemiliknya, sebab dengan amalnya itu dia mengharap keduniaan. آلله memerintahkanku untuk
menahan amal seperti ini, jangan samapi lewat hingga hari berikutnya'. Maka
seluruh malaikat pun melaknat orang tersebut sampai sore hari"
"Kemudian ada lagi malaikat hafazhoh yang naik ke langit dengan membawa
amal hamba آلله yang sangat memuaskan, dipenuhi amal sedekah,
puasa, dan bermacam-macam kebaikan yang oleh malaikat hafazhoh dianggap demikian banyak dan terpuji. Namun
saat sampai langit ketiga malaikat penjaga berkata, 'Tamparkanlah amal ini ke
wajah pemiliknya, aku malaikat penjaga orang yang sombong. آلله memerintahkanku untuk tidak menerima orang
sombong masuk. Jangan sampai amal ini melewatiku untuk mencapai langit
berikutnya. Salahnya sendiri ia menyombongkan dirinya di tengah-tengah orang
lain'."
"Kemudian ada lagi malaikat
hafazhoh yang naik ke langit keempat, membawa amal seseorang yang bersinar bagaikan
bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa,
sholat, naik haji, dan umroh. Tapi, ketika sampai di langit keempat,malaikat penjaga pintu langit keempat
mengatakan kepada malaikat hafazhoh, 'berhentilah jangan dilanjutkan. Tamparkanlah amal
ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga orang-orang yang suka ujub
(membanggakan diri). Aku diperintahkan untuk tidak menerima masuk amal tukang
ujub. Jangan sampai amal itu melewatiku untuk mencapai langit yang berikutnya,
sebab ia kalau beramal selalu ujub'."
"Kemudian naik lagi malaikat
hafazhoh ke langit kelima, membawa amal hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita
diiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus, seperti amal jihad, ibadah
haji, ibadah umroh. Cahaya amal itu bagaikan matahari. Namun, begitu sampai di
langit kelima, berkata malaikat penjaga pintu langit kelima, 'Aku ini penjaga sifat hasud (dengki, iri
hati). Pemilik amal ini, yang amalnya sedemikian bagus, suka hasud kepada orang
lain atas kenikmatan yang آلله berikan kepadanya, Sungguh ia benci kepada apa
yang diridhoi آلله SWT. Saya diperintahkan agar tidak membiarkan
amal orang seperti ini untuk melewati pintuku menuju pintu selanjutnya'."
"Kemudian ada lagi malaikat
hafazhoh naik dengan membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna, sholat yang
banyak, puasa, haji, dan umroh. Tapi saat ia sampai di langit keenam,malaikat penjaga pintu
ini mengatakan, 'Aku ini malaikat penjaga rahmat. Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah ke wajah
pemiliknya. Salah sendiri ia tidak pernah mengasihi orang. Apabila ada orang
lain yang mendapat musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan agar amal
seperti ini tidak melewatiku hingga dapat sampai pada pintu berikutnya'."
"Kemudian ada lagi malaikat
hafazhoh naik ke langit ketujuh dengan membawa amal seorang hamba berupa
bermacam-macam sedekah, puasa, sholat, jihad dan kewaroan (kehati-hatian).
Suaranya pun bergemuruh bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan malaikat. Namun tatkala sampai di langit ketujuh, malaikat penjaga langit ke tujuh mengatakan,
'Aku ini penjaga sum'ah (ingin terkenal/ riya). Sesungguhnya orang ini ingin
dikenal dalam kumpulan-kumpulan, selalu ingin terlihat lebih unggul disaat
berkumpul, dan ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin.. آلله memerintahkanku agar
amalnya itu tidak sampai melewatiku. Setiap amal yang tidak bersih, itulah yang
disebut Riya. آلله tak akan menerima amal orang-orang yang
riya'."
"Kemudian ada lagi malaikat
hafazhoh naik membawa amal seorang hamba : sholat, zakat, puasa,
haji, umroh, akhlak yang baik, pendiam, tidak banyak bicara, dzikir
kepada آلله. Amalnya itu diiringi para malaikat hingga langit ketujuh, bahkan sampai
menerobos memasuki hijab-hijab dan sampailah kehadirat آلله SWT. Namun آلله SWT berfirman, 'Kalian adalah hafazhoh, pencatat amal-amal hamba-Ku.
Sedangkan Akulah yang mengintip hatinya. Amal ini tidak karena-Ku, yang
dimaksud oleh si pemilik amal ini bukanlah Aku. Amal ini tidak di ikhlaskan
demi Aku. Aku lebih mengetahui dari kalian apa yang dimaksud olehnya dengan
amalan itu. Aku laknat dia, karena menipu orang lain, dan juga menipu kalian
(para malaikat hafazhoh), tapi Aku takkan tertipu olehnya'."
ku ini paling tahu akan hal-hal yang ghaib. Aku-lah
yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar kepada-Ku setiap apapun yang
samar, tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apapun yang tersembunyi.
Pengetahuan-Ku atas apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku akan apa
yang akan terjadi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah lewat sama dengan
pengetahuan-Ku atas apa yang akan datang. Pengetahuan-Ku kepada orang-orang
terdahulu sebagaimana pengetahuan-Ku kepada orang-orang kemudian. Aku lebih
tahu atas apapun yang tersamar daripada rahasia. Bagaimana bisa amal hamba-Ku
menipu-Ku. Dia bisa menipu makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini
Yang Mengetahui hal-hal yang ghaib. Laknat-Ku tetap kepadanya.'
"Tujuh malaikat hafazhoh yang ada saat itu dan 3000 malaikat lain yang mengiringi menimpali,
'Wahai Tuhan kami, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat kami
kepadanya.' Maka, semua yang ada di langit pun mengatakan,'Tetapkanlah
laknat آلله dan laknat mereka yang melaknat
kepadanya'."
==========TAHANLAH MULUTMU==========
Mu'adz pun kemudian menangis terisak-isak dan
berkata, "Ya Rosululloh, bagaimana bisa aku selamat dari apa yang
baru engkau ceritakan itu?"
Rosululloh saw menjawab,
"Wahai Mu'adz ikutilah Nabimu dalam hal keyakinan!"
Rosululloh saw menjawab,
"Wahai Mu'adz ikutilah Nabimu dalam hal keyakinan!"
Mu'adz berkata lagi, "Wahai Tuan, engkau
adalah Rosululloh, sedangkan aku ini hanyalah Mu'adz bin Jabal, bagaimana aku
dapat selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?"
Rosululloh saw bersabda,
"Seandainya dalam amalmu ada kelengahan, tahanlah mulutmu, jangan sampai menjelek-jelekan orang lain, dan juga saudara-saudaramu sesama ulama. Apabila engkau hendak menjelek-jelekan orang lain, ingatlah pada dirimu sendiri, sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekan orang lain. Jangan mengangkat dirimu sendiri dengan menekan orang lain."
"Seandainya dalam amalmu ada kelengahan, tahanlah mulutmu, jangan sampai menjelek-jelekan orang lain, dan juga saudara-saudaramu sesama ulama. Apabila engkau hendak menjelek-jelekan orang lain, ingatlah pada dirimu sendiri, sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh aib. Jangan membersihkan dirimu dengan menjelek-jelekan orang lain. Jangan mengangkat dirimu sendiri dengan menekan orang lain."
"Jangan Riya dengan amalmu agar diketahui orang.
Janganlah termasuk golongan orang yang mementingkan dunia dengan melupakan
akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal disebelahmu ada
orang lain yang tidak diajak berbisik."
"Jangan takabur kepada orang lain, nanti akan
luput bagimu kebaikan dunia dan akhirat. Jangan berkata kasar dalam suatu
majelis dengan maksud supaya orang-orang takut keburukan akhlaqmu itu."
"Jangan mengungkit-ungkit apabila berbuat
kebaikan."
"Jangan merobek-robek (pribadi) orang lain dengan
mulutmu, kelak kamu akan dirobek-robek oleh anjing-anjing neraka jahannam,
sebagaimana firman آلله 'Wannaa syithoo-ti
nasy-thoo.' (di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia, yang
mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya)."
Aku (Mu'adz) berkata: "Ya Rosululloh, siapa
yang akan kuat menanggung penderitaan semacam ini?"
Jawab Rosululloh saw,
"Wahai Mu'adz, yang kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh آلله SWT. Cukup untuk mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri, dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang engkau benci bila sesuatu itu terjadi kepadamu."
Jawab Rosululloh saw,
"Wahai Mu'adz, yang kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh آلله SWT. Cukup untuk mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri, dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang engkau benci bila sesuatu itu terjadi kepadamu."
"Apabila seperti itu, engkau akan selamat,
terhindar dari penderitaan itu."
Khalid bin Ma'dan (yang meriwayatkan hadits itu dari
Mu'adz r.a.) mengatakan,
"Mu'adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya ia membaca Al Qur-an, mempelajari hadits ini sebagaimana ia mempelajari Al Qur-an dalam mejelisnya."
"Mu'adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya ia membaca Al Qur-an, mempelajari hadits ini sebagaimana ia mempelajari Al Qur-an dalam mejelisnya."







0 komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bahasa yang baik, sopan dan benar. Insya Allah kami akan menghargai komentar anda.